Langsung ke konten utama

Cerita Kita Dimulai Part 2

Kereta Hari Ini

Pagi ini, aku sedikit terkejut saat melihat jam di ponselku. Alarm bangunku sudah 2 kali terlewat dan aku langsung mandi tanpa membaca ada pesan apa saja yang masuk di ponselku.
Hari ini aku berangkat sedikit kesiangan, karena selain bangun kesiangan, saat tiba di stasiun bogor, kereta yang biasa ku naiki sudah berangkat dan mau tidak mau harus menunggu kereta yang  berikutnya tiba.

Saat kereta tiba, aku langsung naik bersamaan dengan penumpang lainnya. Awalnya kupikir, mungkin aku masih bisa dapat tempat duduk, karena sudah siang, tapi kenyataannya tidak begitu. Saat masuk dan melihat ke sekeliling, semua kursi sudah terisi. Dan aku lanjut jalan ke gerbong selanjutnya untuk mencari kursi yang bisa kududuki. Aku berjalan terus sampai ke gerbong 2 dari depan, dan akhirnya aku berdiri di samping pintu dan bersandar pada tiang ujung tempat duduk.

Kereta masih diam dan belum ada pengumuman lagi jika kereta yang kunaiki akan segera berangkat. Aku baru teringat pada ponselku yang belum kubaca saat pagi tadi, tapi tidak ada pesan apapun yang masuk, sungguh tidak seperti biasanya. Biasanya dia mengirimkan pesan pada ku pagi pagi yang kadang berisi ucapan semangat dan berisi ayat alkitab untuk mengingatkanku baca alkitab dan berdoa di pagi hari.

Tak lama kemudian, pengumuman pun terdengar dan pintu kereta pun mulai tertutup. Aku menyender dan mulai memasang headset ke telinga. Awalnya mau memutar lagu di playlist ponsel, tapi akhinya aku mendengarkan radio dan ada beberapa percakapan yang menurutku lucu dan hampir saja membuatku tertawa sendiri.

Saat Aku menyender, kadang terasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan, sampai ada seseorang yang tiba tiba menghampiri dan langsung berdiri di hadapanku. Aku sedikit terkejut, dan wanita itu juga terlihat seperti sedikit terkejut saat melihat ku. Wanita dengan atasan putih, celana panjang hitam dengan rambut terikat yang mengingatkan aku pada seseorang yang ku kenal, seseorang yang kujumpai secara tiba tiba hari itu. Dan benar saja, ternyata wanita itu adalah dia.

Sesudah kami saling menyadari, kami sama sama menurunkan masker kami dan dia tersenyum lalu berkata : “ Kaya kenal, tapi mirip siapa ya, “

“ Oh ya ? hmmm… “ Jawabku

“ Boleh kenalan ? “ tanya dia sambil tersenyum

“ Hmmmm… Kok berasa kaya lagi mimpi ya… “ jawabku

“ Jadi boleh kenalan ? “ tanya dia lagi sambil tersenyum

“ Boleh, jangankan kenalan, nganterin kemana juga boleh “ jawabku lagi

“ Yakin mau nganterin lagi ? “ tanya dia

“ Hmmm… Iya.... Emang ga mau dianterin nih ? “ Jawabku sambil tersenyum

Dan kami tersenyum dan tertawa lalu kami bertukar posisi berdiri. Saat itu aku merasa seperti tidak ada orang disekitarku dan sepertinya kami mengabaikan apa yang ada di sekitar kami. Sesudah itu, sesudah kami bertukar tempat, tidak ada penumpang yang naik lagi di gerbong kami. Dan kondisi kereta hari itu benar benar tidak sepenuh hari biasanya, meskipun awalnya kupikir akan penuh, tapi ternyata tidak.


Rabu Kelabu

Tidak terasa, sudah hampir 3 minggu kami saling kenal dan saling mengisi hari hari dengan pesan text, pesan suara dan bahkan sampai video call. Tapi jika ditanya tentang hubungan kami apa ?, aku sendiri tidak tahu, dan bukannya aku tidak mau mempertegas hubungan kami, tapi entah mengapa, aku merasa saat aku mulai memberikan perhatian lebih, dan bahkan mungkin sedikit menuju arah posesif. Dia mulai menghilang dan mulai seolah menghindar dariku. Dan saat aku mulai sibuk dengan pekerjaan dan keseharian ku, dia mulai mencari kabar tentang aku, mulai menanyakan berbagai hal dan kegiatanku hari itu, bahkan pernah sampai kami lupa untuk mencharge ponsel kami, sampai aku sempat kesiangan karena alarm ponselku tidak terdengar.

Minggu ini diawali dengan kejadian di hari senin kemarin. Aku mengawali hariku di kereta bersamanya, sungguh suatu pertemuan di pagi hari yang mengejutkan dan bisa dibilang membahagiakan. Lalu hari selasa kami saling tidak menghubungi satu sama lain, kami sama sama sibuk dengan kesibukan kami masing masing. Dan mungkin karena kesibukkan kami, sehingga dia tidak sempat membalas pesanku hari itu.

Dan pagi ini dia mengirimkan pesan seperti biasanya, tapi kali ini dia menambah isi pesannya dengan penjelasan jika kemarin dia sedang sangat sibuk, dan saat malam dia mau membalas pesanku, ternyata batrai ponselnya sudah habis. Selain itu hari ini juga dia meminta aku untuk menjemputnya jika sudah selesai kerja.

Awalnya aku sempat bingung harus menjemputnya dimana, karena saat dia sedang sibuk mengurusi sesuatu di Jakarta, aku tidak pernah tahu dia dimana. Dan akhirnya kami janjian untuk bertemu di salah satu pusat perbelanjaan di daerah tebet.

Hari ini aku merasa semuanya lancer dan baik baik saja. Tapi hari ini aku tidak jadi pulang cepat, karena atasanku tiba tiba saja mengadakan meeting dadakan. Aku sempat menolak dan mencari alasan untuk tidak ikut meeting, tapi tidak bisa. Dan saat aku mencoba menghubunginya, ponselnya tiba bisa dihubungi dan semua pesan ku yang kukirim ke dia tidak ada yang dibaca olehnya.

Kira kira jam 19.00 aku keluar dari kantor dan cuaca sore itu tiba tiba saja berubah menjadi tidak bersahabat. Aku mencoba menghubunginya lagi sesudah aku selesai meeting, dan akhirnya dia mengangkat telponku. Aku tanya dia sudah dimana dan bagaimana kondisi ditempatnya, aku menjelaskan penyebab aku terlambat ke tempat janjian kami, tapi dia hanya diam dan hanya meminta aku untuk cepat datang ke tempat itu.

Jam 20.15 aku tiba dan kondisi parkiran penuh, aku memutari parkiran dari B1 sampai B2, tapi aku masih tidak mendapat tempat. Sampai aku kembali lagi ke B2, akhirnya aku dapat tempat parkir. Keluar dari tempat parkir, aku langsung menghubunginya dan kutanya dia ada dimana, tapi ponselnya tidak aktif. Saat kubaca lagi pesannya yang terakhir, dia info jika dia menunggu di food court.

Aku langsung menuju ke tempatnya secepat ku bisa. Dan benar saja, dia terlihat kesal dan ada sobekan tiket film diatas meja. Aku terdiam melihat tiket itu dan teringat saat hari minggu kemarin. Minggu kemarin, kami sempat membuat janji akan nonton sebuah film yang sama sama kami tunggu. Aku meminta maaf dan menjelaskan semuanya, tapi dia hanya diam, lalu meminta untuk diantar pulang. Sepanjang perjalanan kami pulang ke Bogor, dia hanya diam dan saat tiba di kosannya dia hanya bilang jika dia sudah lelah.


Janji di Hari Sabtu

Sesudah kejadian di hari rabu kemarin, akhirnya kami sempat hilang kontak selama satu hari dan  pagi ini dia menghubungiku dan meminta maaf jika pesanku kemarin tidak ada yang dia balas. Dia menceritakan jika dia kesal padaku dan dia juga sedang sangat sibuk, sampai sampai dia tidak bisa memeriksa ponselnya.

Aku hanya membaca pesannya dan membalasnya dengan emoticon senyum. Dia lalu menanyakan kabarku dan apakah aku kesal atas sikapnya yang seperti itu. Aku hanya membaca dan menjelaskan jika aku jika aku sedang sibuk dan akan menghubunginya saat jam makan siang.

Akhirnya aku menghubunginya siang itu,
“ Hei… Lama banget ngangkat telponnya, sudah makan atau lagi makan ? “ tanyaku

“ Halo, iya, ini lagi makan, kenapa ? “ tanya dia

“ Soal kemarin, aku minta maaf, soalnya ada meeting dadakan, terus aku mau ijin, ehhh.. ga di Acc “ jawabku

“ Iya, aku ngerti, kamukan udah jelasin di wasap kamu kemarin, btw, udah makan ? “ tanya dia

“ Siapa ? Aku ? “ tanya ku lagi

“ Jojo… sudah makan ? “ tanya dia dengan nada terdengar seperti aga kesal

“ Hmmm… iya, aku baru mau makan “ Jawabku

“ Yaudah makan dulu sana, nanti telpon lagi kalo udah makan “ jawab dia

“ Iya… Btw, kamu sabtu besok sibuk ga seharian full ? “ tanya ku

“ Sabtu besok ? hmmm…. Kenapa gitu ? aku belum ada jadwal apa apa sih “ jawab dia

“ Ok.. Sabtu besok jam 3 sore di coffe shop biasa ya.. “ Jawabku

“ Ok… Sekarang tutup telponnya, terus kamu makan sana “ jawab dia, lalu dia menutup telponnya.


Nonton di Hari Sabtu

Pagi ini tidak ada pesan yang masuk di ponselku, sempat bingung, tapi akhirnya aku yang menghubunginya. Kira kira 30 menit kemudian, dia baru membalas pesanku dan menanyakan rencana hari ini. Aku diam sejenak dan langsung memeriksa jadwal film untuk nanti. Tak lama kemudian, ada pesan masuk lagi darinya. Aku baca dan sempat tertawa sendiri.

Kira kira jam 1 siang aku langsung berangkat ke salah satu bioskop yang berada di mall yang sama dengan coffe shop langganan kami. Saat aku masuk ke dalam bioskop, ternyata film yang mau kami tonton baru ada jam 6 sore dan masih banyak kursi yang kosong. Sungguh tidak seperti hari hari sebelumnya.

Sesudah membeli tiket, aku langsung pergi ke coffe shop, untuk menunggunya. Tapi, saat aku tiba di coffe shop. Aku sedikit terkejut, karena dia sudah disana dengan laptopnya dan sepertinya sudah lama. Aku lihat ada bekas gelas dan piring kue di mejanya. Aku menghampirinya dengan 2 tiket film yang sudah ku simpan dalam dompet.

“ Sudah lama ?? “ tanyaku

“ Lumayan… Jo... kayanya, lama lama aku bisa kaya kamu kalo disini.. “ Jawabnya sambil tersenyum ke arahku

“ Wah… Kok Gitu ? “ tanyaku lagi

“ Iya… Soalnya aku dari pagi sudah disini, terus si mba mba nya juga udah hafal dan tahu pesananku, udah gitu,  posisi duduk aku sama kaya kamu “ Jawabnya

“ Hmmm… Bisa jadi, terus ini kira kira sudah beres belum ? “ tanyaku lagi

“ Kenapa gitu ? tumben kamu nanya gitu ? “ tanya dia

“ Wah.. Perasaan tadi pagi ada yang nanyain rencana hari ini deh.. Ga lupa kan ?“ tanyaku dan dia hanya tersenyum lalu mematikan laptopnya

“ Iya… aku inget kok, btw, emang udah jamnya ya, emang nonton yang jam berapa ? “ tanya dia

“ Lah, kenapa dimatiin laptopnya ? aku kan belum bilang jamnya.. “ tanyaku

“ Jadi masih lama nih ? Kalo gitu aku mau beresin lagi kerjaan aku, kamu duduk aja di situ, pesen kopi favorit kamu, terus jangan ganggu aku dulu ya.. “ jawab dia

“ Lah.. kok Gitu… “ Jawabku dan dia tersenyum sambil menyalakan kembali laptopnya

“ Jadi ceritanya sibuk nih ? apa Cuma mau iseng doang ? “ tanyaku

“ Jadi.. Gimana ya ? mau iseng sekali kali ga apa kan ? soalnya aku ga tau kapan lagi bisa isengin kamu “ Jawabnya sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu masuk dalam mall

“ Terus.. Sekarang kamu mau kemana ? “ Tanyaku

“ Toilet… WC… udah ya, aku nitip laptop, jangan ilang loh, itu penting “ jawabnya

Sudah hampir 3 jam kami di coffe shop, dia sibuk dengan laptop dan kerjaannya, aku sibuk dengan ponselku. Benar benar terasa lucu, kami berada di tempat yang sama, tapi pikiran kami tidak bersama, berbeda dengan hari hari biasanya jika kami sedang bersama di situ.

Jam di ponsel sudah menunjukan angka 17.45, dan akhirnya kami masuk ke mall dan langsung jalan ke bioskop. Film berlangsung hampir 2 jam, dan didalam tidak banyak yang kami bahas, karena kami fokus pada jalan cerita di film.

Hari ini adalah hari perdana kami untuk nonton berdua, dan berbeda dengan hari hari biasanya, hari ini kami mengalami moment dimana kami berada pada tempat yang sama, tapi pikiran kami tidak bersama dan kembali bersama saat kami nonton. Meskipun bersama dan terasa bahagia, tapi pikiranku masih sedikit terganggu dengan perkataannya saat di coffe shop, yang seolah olah dia akan meninggalkan ku.


Janji di Hari Minggu

Pagi ini, hari ini, berbeda dengan hari minggu biasanya, karena minggu ini aku pergi ke gereja tidak seperti biasanya. Aku berangkat pagi dari rumah dan langsung menjemputnya ke kosannya. Dan berangkat ke gereja.
“ Selamat pagi, selamat hari minggu “ ucapku saat dia masuk ke mobil

“ Selamat hari minggu juga “ Jawabnya

“ Selamat paginya mana ? “ tanyaku sambil tersenyum

“ Selamat paginya ? kan udah, kamu ga baca wasap aku ya ? “ tanya dia

Aku mulai tersenyum dan mulai menyalakan mobilku untuk berangkat ke gereja.

“ Jo.. Liat deh… Bagus ya ? “ ucap dia sambil menunjukan beberapa foto di media sosial

“ Bentar...  Mana ? “ tanyaku

“ Ini, liat deh, sebentar aja, bagus ya ? “ jawab dia

“ Iya, dimana tuh ? bagus banget pemandangannya, berangkatin apa minggu depan ? “ jawabku

“ Yakin ? minggu depan mau kesini ? “ tanya dia

“ Iya, itu masih di Indo kan ? “ tanyaku

Dia diam dan tidak menjawab pertanyaanku, bahkan sampai kami tiba di gereja.

Sesudah selesai gereja, aku menanyakan lagi mengenai foto yang dia tunjukan tadi pagi saat di mobil. Dia akhirnya menjawab dan meminta aku untuk berjanji akan pergi ke sana sama dia.

“ Iya, Aku janji.. Nanti kita pergi ke sana “ ucapku

“ Yakin ? kamu mau ke sana sama aku ? “ tanya dia

“ Iya, yakin, emang itu dimana sih ? “ tanyaku

“ Yauda kalo gitu, minggu depan ya “ jawab dia

“ Sabtu maksud kamu ? “ tanyaku

“ Iya, sabtu kita berangkat pagi, jam 8 kamu harus udah ada di kosan ya, terus syaratnya, kamu jangan ganggu aku dulu selama 1 minggu ini “ jawab dia

“ Hmmm… Maksudnya ? “ tanyaku

“ Iya… aku mau beresin beberapa kerjaan dan hal lain dulu selama 1 minggu ini, terus kamu baru boleh nyari aku hari jumat malem “ jawabnya

“ Wah. Syaratnya susah banget kayanya “ jawabku

“ Jadi mau apa engga nih ? tadi katanya Janji ? “ jawab dia

“ Iya, aku janji… “ Jawabku

“ Janji apa ? “ tanya dia

“ Iya, aku janji mau nemenin kamu, terus selama seminggu ini aku ga akan nyari kamu, kecuali hari jumat, terus sabtu sebelum jam 8 sudah di kosan kamu “ jawabku

Dia tersenyum lalu tiba tiba mencium pipi sebelah kiriku, dan aku hanya terdiam karena terkejut


Sabtu Yang Mengejutkan

Sesudah hampir 1 minggu aku tidak mencarinya. Akhirnya tadi malam dia mengirimkan pesan padaku mengenai perjalan kami hari ini.

Aku berangkat dari rumah tanpa ada perasaan apapun. Dan saat sampai di kosannya, kulihat ada beberapa koper yang ada di depan kamarnya. Aku sedikit terkejut, karena kupikir kami hanya akan liburan ke pantai dan tidak sampai menginap sampai berhari hari.

“ Kamu kenapa bengong ? “ tanya dia saat melihatku berdiri

“ Itu koper kamu semua ? “ tanyaku

“ Iya.. ayo dong, bantuin masukin ke mobil “ jawabnya

“ Banyak banget, kita kan Cuma pergi sebentar, kenapa udah kaya orang pindahan ? kopernya banyak banget “ jawabku

“ Iya nih.. mau pindahan “ jawabnya sambil tersenyum

Aku diam dan ku pikir dia sedang bercanda.

Semua koper sudah masuk dan kamipun sudah di mobil. Tapi aku belum menyalakan mesin dan belum ada niat untuk berangkat sampai dia mengatakan tujuan dan ada apa sebenarnya.

“ Jadi kita mau kemana ? “ tanyaku

“ Bandara “ jawabnya

“ kok jadi bandara ? “ tanyaku

“ Iya, soalnya tujuan kita itu tidak di Indonesia, hmmm… Tujuan ku “ jawabnya

“ Maksud kamu ? “ tanyaku

“ Iya, udah jalan aja dulu ke bandara, nanti di jalan aku jelasin semuanya “ jawabnya sambil mengambil tas ranselnya yang ada di belakang joknya.

Aku menyalakan mesin dan kamipun berangkat ke bandara. 

Di sepanjang jalan dia menceritakan semuanya, kesibukannya selama ini, alasan kenapa dia tidak mau diganggu selama 1 minggu ini dan alasan dia menunjukan foto di salah satu postingan di media sosial itu padaku.

Aku sangat terkejut mendengar semuanya dan dia juga bilang, jika dia juga sangat terkejut, karena impiannya benar benar terwujud dan dia juga tidak menyangka, jika dia bisa lolos untuk program beasiswa yang dia ajukan.

Sesaat sebelum keluar tol untuk menuju bandara, dia membuka tasnya dan memberikan sepucuk surat dan menaruhnya diatas dashboard mobil.

“ Jangan dibuka sekarang ya “ ucap dia

“ Itu apaan ? “ tanyaku

“ Ini surat dari aku, terus nanti kamu bacanya pas pesawat aku terbang ya, biar kaya di film film “ jawabnya sambil tersenyum

Aku diam dan hanya melihat ke arah surat yang ada di dashboard, lalu memasukannya ke laci yang ada di dashboard.

Kami tiba di bandara, dan dia langsung terlihat sangat sibuk mengurusi barang barangnya dan bebrapa hal yang tidak begitu ku tahu. Dan aku hanya bisa menemaninya sampai dia berangkat dan melihat pesawatnya terbang dari jendela bandara.

“ Maaf karena belum bisa menepati janjiku untuk pergi ketempat itu bersamamu “ kata kata yang terucap saat ku melihat pesawatnya terbang dari landasan

Sungguh hari sabtu yang tidak pernah aku nantikan. Sungguh hari sabtu yang sangat mengejutkan untuk ku. Hari yang kami rencanakan untuk liburan bersama dan bahkan sampai aku membuat janji di gereja. Tapi hari ini hanya jadi hari yang mengantarkanku pada perpisahan dengannya.





** Cerita ini hanya sepenggal dari sebuah kisah yang kemarin. Maaf jika penulisannya membingungkan dan aga sulit dipahami.


** Dan cerita ini hanya fiktif belaka, jika terjadi sesuai kenyataan, pastinya tidak disengaja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman ???

Cerita ini dimulai dari... Dapet notif "penampungan google anda sudah penuh". Terus buka google photo, ceritanya mau hapus beberapa foto yang mungkin bisa dihapus. Liat foto dari paling lama ampe paling baru. Scrol naik turun, naik turun, isinya bener bener susah buat dihapus. Tapi lama lama baru sadar. Selama ini, setiap moment spesial gw, ga pernah ada teman or sahabat yang nemenin gw. Tapi disetiap moment teman or sahabat gw, gw selalu ada. Diem, liat lagi, scroll lagi. Positif thingkingnya adalah "moment spesial gw pasti selalu hari libur" jadi wajarlah. Tapi selama gw berteman sama mereka, ternyata ga pernah ada. Hahaha. Ketawa, terus diam, ga lama inget beberapa kejadian kocak dan akhirnya. Yups, gw sedikit membuat eksperimen dengan memancing keributan, yang akhirnya gw berasa seperti sedikit disudutkan, meskipun sebenarnya statement gw cuma sepikan "biasa" seperti yang lain lakukan, tapi kocaknya, lah, gw malah jadi seperti seorang pembuat...

Hari Kita Berakhir

Akhirnya. Akhirnya, aku hanya bisa menatapnya saat dia boarding pas di bandara hari itu. Hari yang ingin kulupakan. Tapi aku teringat kembali. Hari itu aku sangat terkejut, karena kami sudah memiliki sebuah rencana untuk hari itu. Tapi semua berubah, saat aku menjemputnya ke kosannya. Semua barang dan tasnya sudah rapih, dan dia hanya meminta ku untuk mengantarnya, tanpa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Sabtu Pagi Itu Pagi itu sekitar jam 8 pagi aku sudah di kosannya dan siap untuk pergi ke tempat yang sudah kami rencanakan. Tapi nyatanya aku harus mengantarnya ke bandara dan selama ini dia merahasiakan jika hari itu adalah hari terakhir dia bersamaku di Indonesia.  Sesudah memasukan semua tasnya ke dalam mobil, kami akhirnya berangkat ke bandara, dan dia hanya bercerita jika dia akan pergi ke luar negri. Ke negara yang pernah menjadi tujuan ku dulu saat mau kuliah. Dia bercerita jika dia berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah negara tujuan...