Langsung ke konten utama

Hari Kita Berakhir


Akhirnya.

Akhirnya, aku hanya bisa menatapnya saat dia boarding pas di bandara hari itu.
Hari yang ingin kulupakan.
Tapi aku teringat kembali.
Hari itu aku sangat terkejut, karena kami sudah memiliki sebuah rencana untuk hari itu.
Tapi semua berubah, saat aku menjemputnya ke kosannya. Semua barang dan tasnya sudah rapih, dan dia hanya meminta ku untuk mengantarnya, tanpa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

Sabtu Pagi Itu

Pagi itu sekitar jam 8 pagi aku sudah di kosannya dan siap untuk pergi ke tempat yang sudah kami rencanakan. Tapi nyatanya aku harus mengantarnya ke bandara dan selama ini dia merahasiakan jika hari itu adalah hari terakhir dia bersamaku di Indonesia. 

Sesudah memasukan semua tasnya ke dalam mobil, kami akhirnya berangkat ke bandara, dan dia hanya bercerita jika dia akan pergi ke luar negri. Ke negara yang pernah menjadi tujuan ku dulu saat mau kuliah. Dia bercerita jika dia berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah negara tujuannya. Dia bercerita jika kemarin dia sibuk mengurusi sesuatu, dan sebenarnya dia mengurusi beberapa hal yang diperlukan untuk proses beasiswa dan visa untuk ke negara tujuannya.
Aku hanya diam sepanjang perjalanan kami ke bandara. Aku bingung dan sedikit kecewa, karena dia merahasiakan hal ini.

Dia bilang ini adalah suatu kejutan yang sebenarnya tidak hanya aku yang dibuatnya terkejut, tapi dia juga terkejut karena dia berhasil lolos untuk beasiswa itu.
Dia memberikan sepucuk surat saat kami berangkat dari kosan ke bandara, dan dia memintaku untuk membukanya jika pesawatnya sudah terbang, dia bilang " biar seperti cerita di film film romantis ".

Setibanya kami di bandara. Dia memeriksa jadwal penerbangannya, aku sempat bertanya mengenai keberangkatannya hari ini, apakah keluarganya mengetahui hal ini, dia belum sempat menjawabku, karena kami masih sibuk mengurusi hal hal yang harus dilakukan di bandara. Pesawatnya berangkat senja hari, sekitar jam 7 malam, entah itu sudah malam atau masih sore, tapi untuk kami jam 7 itu belum terlalu malam.

Sesudah mengurusi beberapa barang yang didaftarkan untuk masuk ke bagasi pesawat, kami akhirnya duduk di sebuah cafe di bandara, dan dia akhirnya menceritakan semuanya, meskipun menurutku tidak sedetail yang seharusnya. Dia menceritakan jika keluarganya sudah diberi tahu soal keberangkatannya dan dia juga menceritakan tentang aku ke orang tuanya. Dia bercerita jika orang tuanya mendukung semua keputusannya untuk kuliah di sana.

Aku penasaran dengan isi surat yang dia titipkan, tapi dia bilang akan marah dan tidak akan pernah menghubungi ku lagi, jika membuka suratnya saat dia belum berangkat.

3 jam sudah berlalu tanpa disadari, dan sudah waktunya untuk dia boarding pas dan menunggu di dalam. Dia melangkah menuju ke gate untuk bording pass. Dia wanita yang membuat ku berubah selama 1 bulan ini, dengan rambut terikat, headset dileher, dan beberapa keperluan yang dia simpan diranselnya, perlahan melangkah meninggalkan ku, dengan senyumnya yang akan selalu ada di kepalaku.

Mungkin hari ini adalah jalan - jalan terakhir ku dengannya. Itu yang kupikirkan, tapi aku tetap mendoakannya dan mendukung setiap keputusannya.

“ Ya…
Hari ini…
Kami jadi pergi jalan – jalan...
Iya…
Jalan - jalan ke bandara untuk mengantarnya… “

Selama dia belum masuk pesawat, kami masih saling mengirim pesan. Aku duduk dengan fokus pada ponsel yang isinya chat aku dengan dia. Mungkin jika dilihat orang yang ada di bandara, aku mungkin bisa dianggap orang kurang waras, karena sempat tertawa sendiri saat membaca pesannya.
Dia bertanya : " Surat sudah kamu baca ? pokoknya bacanya nanti, pas pesawat aku terbang ", aku jawab belum, karena suratnya aku simpan di laci dalam mobil, dia meminta aku untuk mengambilnya dan membacanya saat pesawatnya berangkat, aku bilang akan membacanya di parkiran mobil, sambil memandang pesawatnya lepas landas, dan dia bertanya : " Memang kelihatan ? " dan kami saling mengirim VN yang isinya hanya suara - suara bercandaan kami yang baru kali ini kami lakukan.


19.00

Jam di tangan dan ponsel ku sudah menunjukan jam 19.00 dan chat kami juga sudah terhenti sekitar 15 menit. Aku sudah berdiri di dekat jendela bandara yang menghadap ke arah landasan pesawat, meskipun aku tidak memegang surat yang dia berikan. Sesaat sebelum ku berdiri di dekat jendela, beberapa kali sempat terdengar pengumuman penerbangan di bandara dan ada beberapa penumpang yang berlarian ke arah gate tempat dia boarding pas dan ada juga yang menuju gate lainnya. Dan tepat jam 19.00 pesawatnya lepas landas dan terbang.
Sambil melangkah keluar dari bandara dan menuju arah parkiran, aku melihat ke langit malam itu dan melihat beberapa pesawat yang melintas diatasku. Dan sambil memandang pemandangan langit malam itu, kusampaikan beberapa pesanku pada Tuhan untuknya, dan kusampaikan beberapa permintaanku untuknya pada malam itu.


Surat.

Di parkiran mobil, di dalam mobil, sesaat sebelum mesin kunyalakan dan berangkat untuk pulang ke rumah, akhirnya kubaca suratnya. Tulisan tangannya yang baru kali ini ku lihat dan ku baca. Aku terdiam sejenak di mobil dan menghela nafasku. Ada perasaan tenang dan bahagia yang timbul sesudah ku membaca suratnya. Isi surat itu cukup panjang, karena berisi semua kenangan kami saat kami bersama dan dia menceritakan dengan detail dalam surat itu bagaimana kami pertama bertemu dan bagaimana kami setiap hari saling mendukung satu sama lain, meskipun aku baru menyadari jika selama ini kami belum ada ikatan yang pasti dalam hubungan kami, tapi dia merasakan kebahagiaan yang berbeda. Dan hal itu juga yang kurasakan.

Di dalam surat itu juga ada beberapa foto kami yang diambil dari ponselnya, ada foto candit ku dan fotonya, pokoknya benar - benar surat yang menceritakan kebahagiaan kami. Sesudah ku membacanya, kubalas surat itu melalui voice note yang kukirim melalui semua media sosial dan aplikasi yang bisa menghubungkan kami. Dan aku pulang dengan perasaan bahagia dan tenang, meskipun hari itu tidak sesuai dengan apa yang sudah kurencanakan sebelumnya.


Minggu pagi.

Pagi hari, di hari minggu, aku bangun pagi seperti biasa. Dan langsung berangkat ke gereja, hanya saja, yang menemani ku ibadah kali ini bukan dia, tapi teman teman yang baru kukenal begitu aku mengenalnya. Aku sekarang mulai aktif di gereja, aku sadar, dia yang membuat ku aktif di gereja, mungkin aku tidak menjadi guru sekolah minggu atau pembimbing anak anak usia taruna, tapi aku mendukung setiap kegiatan yang di gereja dan menjadi tim dari panitia dalam kegiatan kegiatan di gereja. 

Dan pagi ini aku merasakan sesuatu yang berbeda saat aku masuk ke dalam ruang ibadah, aku merasa lebih tenang dan lebih hangat, kondisi yang sama seperti saat aku ke gereja bersamanya. Aku duduk dengan beberapa teman dan tidak di balkon tengah lagi, tapi di sayap atau di bawah di baris ke tiga atau ke empat dari depan.

Teman - teman menanyakan soal dia kepadaku, dan mereka menanyakan perasaanku. Ada yang meledek, ada juga yang memberi semangat, tapi aku bersyukur karena Tuhan sudah mempertemukan aku dengannya. Yang sudah membuatku berubah, dan membantu aku menjadi pribadi yang mau aktif dan lebih dekat dengan Tuhan, bukan pribadi yang ke gereja hanya karena sudah rutinitas saja.


Hari - hari

Hari - hari selanjutnya kujalani seperti biasanya. Setiap hari kami berkomunikasi dengan VN di pagi, siang, sore dan malam hari. Kami agak sulit jika harus telpon atau chat, karena perbedaan waktu yang lumayan lama ( sebenarnya hanya 6 jam ) dan aku juga sadar jika kami memiliki kesibukan kami masing masing. 
Tidak terasa, ternyata sudah mau 2 minggu kami menjalani hubungan seperti ini. Jika di tanya status, mungkin sekarang status kami adalah sepasang kekasih yang harus berpacaran secara jarak jauh ( LDR ). Teman - teman kami sering meledek dan kadang membuat ku kesal sendiri, karena cara becanda mereka, tapi dia selalu mengingatkan ku jika mereka hanya bercanda dan kamipun masih intens dalam komunikasi. Kadang muncul rasa takut dan kuatir jika di sana dia memiliki kekasih lagi, tapi dia selalu membuat ku percaya dan yakin jika pikiran negative ku itu hanya muncul dari rasa takutku saja.


Tamu tak di duga.

Hari minggu, di minggu ke tiga sesudah dia pergi, ada kejadian yang mengejutkan saat di gereja. Aku kira aku melihat dia, tapi itu bukan dia dan ternyata itu adiknya. Jika dari jauh mereka terlihat sangat mirip. Dan ternyata tidak hanya aku yang terkejut, tapi beberapa teman kamipun terkejut melihat adiknya.

Dan akhirnya aku bertemu dengan keluarganya. Ayah dan ibunya terlihat sangat berbeda, gaya dan penampilannya sangat berbeda dengan dia. Mungkin karena mereka dari golongan keluarga kaya, itu yang ada dalam pikirku.
Dan siang itu, sepulang dari gereja, aku ditemui oleh orang tuanya. Awalnya aku senang, tapi saat bertemu, mereka meminta ku untuk mengundang mereka ke rumah ku.
Aku mengabari keluarga ku, agar mereka tidak kaget jika ada tamu yang datang tiba - tiba ke rumah kami. Aku pulang ikut mobil orang tuanya dan mengarahkan supir orang tuanya untuk membawa kami ke rumahku.

Sesampainya di rumahku, aku melihat adanya gelagat aneh dari orang tuanya. Pikirku, mungkin karena rumahku biasa saja dan tidak mewah. Mereka bertamu hanya sebentar dan sungguh kurasa hanya basa basi, atau formalitas, atau mungkin mereka hanya mencari tahu, siapa dan dari keluarga seperti apa yang menjadi pacar anak mereka.

Mereka sempat mengobrol dengan orang tuaku, dan sempat terlihat adanya kecocokan antara ayahku dengan ayahnya saat mereka sama sama membicarakan hal yang tidak sengaja di bahas oleh mereka. Aku hanya berdoa semoga saja tidak terjadi hal hal yang berdampak buruk pada hubungan kami.


Video call

Kami menjalani rutinitas LDR kami dengan bahagia sampai hari itu.
Hari dimana aku menerima undangan untuk ke rumahnya dari keluarganya.
Tepat pada hari sabtu di minggu ke empat pada bulan itu, aku pergi ke rumah orang tuanya untuk memenuhi undangannya.

Ternyata rumahnya tidak terlalu jauh dari kota ku, dan rumahnya luar biasa besar dan mewah. Benar - benar rumah impian untuk setiap orang yang hidupnya biasa saja.
Aku masuk ke rumahnya dan di sambut oleh beberapa pembantu dan supir dirumahnya. Kebetulan hari itu ada ibadah di rumahnya. Aku mengikuti ibadah dirumahnya, dari awal sampai selesai.

Dan aku terkejut dengan apa yang terjadi diakhir ibadah. Orang tuanya melakukan V- Call dengan seseorang, tapi bukan dia. Aku hanya diam, dan melihat apa yang terjadi, dan mendengarkan apa yang tamu lain bicarakan. 

Adiknya tiba - tiba menghampiriku dan mengajakku untuk ke taman, tapi aku menolak dan aku ingin melihat apa yang terjadi. Ternyata dalam video call itu, aku melihat ada seorang pria sebaya dengan ku sedang melakukan kejutan ke dia, pria itu menuju apartement dia di sana dengan membawa bunga dan cicin.

Akhirnya aku berpikir jika yang ingin ditunjukan oleh orang tuanya kepadaku adalah, mereka ingin aku melihat pria pilihan mereka akan melamar dia di sana. Aku masih diam dan terus melihat V-Call itu dan berdoa agar itu hanya mimpi buruk ku saja.

Adiknya yang berada disampingku memegang tanganku, seolah ingin berkata : " Kak, yang sabar ya, kaka di sana pasti tidak akan menerima tawaran pria itu ". 

Di ruangan itu, suara ramai terdengar dan semua berkata : "terima !!! terima !!! terima !!!".

Tapi aku tidak mendengar apa jawabnya, karena saat pria itu masuk ke apartementnya dan bertemu dengannya, dia hanya diam, dan terlihat terkejut.

Aku berdoa dan berpikir apakah dia melihat ku dari sana, atau apakah yang akan terjadi selanjutnya antara aku dan dia. Suara di ruangan semakin ramai dan aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, apakah dia menerima tawaran pria itu atau tidak. Ternyata bukan itu yang kudapat, tapi layar TV menunjukan “ No Signal and Try Again Later “, dan sepertinya koneksi video callnya terputus. Dan mungkin itu adalah jawaban Tuhan dari doaku.

Sesudah kejadian itu, aku ijin pamit untuk pulang. Aku pamit ke adik dan ayahnya. Aku pergi dengan perasaan sedikit marah dan kesal. Sambil memikirkan apa maksud dari orang tuanya menujukan itu padaku, dan benarkah apa yang kupikirkan sebelumnya saat ku melihat V - Call itu atau mungkin tidak seperti itu. Tapi tetap saja, ku pergi dengan perasaan kesal.


Permintaan Sang Ayah

Keesokan harinya aku berangkat ke gereja seperti biasanya, dan menganggap tidak ada kejadian apa apa kemarin. Teman - teman ku, yang ku kenal dari dia menghampiriku saat aku tiba di gereja, mereka menanyakan soal acara kemarin, karena mereka juga diundang, tapi mereka tidak bisa datang.

Aku hanya diam dan tidak menjawab apa apa. Sesudah ibadah, di parkiran gereja aku bertemu dengan ayahnya, seorang pria gagah dengan wajah yang tidak secerah kemarin. Om Fred, begitu kusapa dia, kuucapkan selamat hari minggu dan kujabat tangannya. Terlihat senyum sayu dari wajahnya saat berjabat tangan denganku, seolah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.

Melihat wajahnya akhirnya aku bertanya : " Apa kabar om ? Sehat om ? kemarin om terlihat sehat, kenapa hari ini seperti kurang sehat om ".

Ayahnya hanya tersenyum dan berkata : " Sehat, puji Tuhan, kamu sudah makan ? bisa temani om makan siang ? "

Aku bingung dan akhirnya aku iyakan saja ajakannya.

Kami makan di salah satu rumah makan di dekat gereja, di sana Om Fred menceritakan semua kejadian kemarin, tak lama setelah aku pulang. Om Fred menanyakan hubungan ku dengan Olin sudah sejauh mana dan sudah sampai tahap apa. Dia seolah sedang mencari tahu tentang hubungan kami.

Sempat terpikir, mungkin kemarin dia menolak tawaran dari pria pilihan orang tuanya. Sesaat aku merasa bahagia, tapi entah ada rasa sedih yang ikut muncul tiba - tiba.

Dan benar saja seperti apa yang kupikirkan. Ternyata dia menolak tawaran dari pria itu. Dan seketika itu, sesudah dia menolak pria itu, om Fred menceritakan kondisi di rumahnya berubah, rasa bahagia yang dirasakan oleh orang tuanya dengan beberapa koleganya, tiba - tiba berubah.

Om Fred menceritakan, jika acara kemarin itu sebenarnya kemauan dari istrinya. Ibunya Olin ingin menjodohkan anaknya dengan anak temannya. Dan om Fred cerita jika Olin sebelumnya sempat kabur dari rumah dan menentang pilihan Ibunya untuk kuliah di kampus pilihan Ibunya. Dia kabur karena tahu jika pria yang akan dijodohkan dengannya kuliah di kampus itu.

Om Fred membujukku untuk mencoba menjauh dari Olin, dia berkata ini untuk kebaikan kami, karena jika dipaksakan, mungkin ibunya tidak akan merestui hubungan kami, dan dari sisi lain, keluarganya Olin akan aman dari segi keuangan, karena dengan pertunangan dan perjodohan itu, perusahaan milik Ayahnya akan di suport oleh perusahaan milik keluarga calonnya.

Aku bingung, diam, dan ingin menolak, tapi akhirnya aku hanya bisa diam dan berpamitan pada Om Fred, lalu meninggalkan dia dan kembali ke gereja.


Galau

Kemarin aku sudah mendengar suatu permintaan yang sungguh tidak logis dan mengecewakan menurutku. Aku melakukan aktifitas hari ini dengan kondisi tidak karuan, sampai di kantor, mood ku untuk berkerja tidak ada. Aku buka ponsel, isinya semua pesan dari dia, ada beberapa kali panggilan yang tidak terjawab, dan saat ku buka email, banyak email darinya. Aku hanya membaca pesannya satu per satu, tapi semua tidak ku balas dan entah mengapa aku tidak berniat untuk menghubunginya.

Hari itu, aku merasa ingin menghilang dan ingin lupa ingatan. Karena seperti beberapa kutipan dalam Film yang pernah kutonton : " Lebih baik tidak mengenalmu daripada harus melupakanmu ", itu yang ada di pikiranku hari itu. Aku sempat tertawa dalam hati, karena pada masa sekarang ternyata masih ada yang namanya perjodohan, benar - benar seperti kisah jaman dulu dan cerita cerita di FTV.

Tiga hari sudah berlalu dan aku masih tidak membalas pesan dan telponnya. Setiap hari dia masih terus mencoba menghubungiku, dan aku masih merasa menjadi seorang bodoh dan pengecut yang tidak berani menghadapi masalah, dan ingin lari dari masalahku.


Berakhir

Akhirnya pada suatu malam, aku menghubunginya. Terdengar suara bahagia dari dia, dan sebelum aku berkata banyak, dia sudah menceritakan berbagai hal dan menanyakan kabarku. Aku diam mendengarkan dia cerita, sampai tanpa terasa ada air mata turun dari mataku, dan seolah ini adalah tanda untuk mengakhirinya.

Aku masih mendengarkan cerita dan penjelasannya, aku hanya menjawab : " Iya, Tidak, Benarkah, Kok bisa begitu ", dan segala macam kata yang jika diperhatikan akan seperti basa basi semata. Sampai  akhirnya dia terdiam. Dan dia menanyakan kabarku sekali lagi dan bahkan kali ini sampai tiga kali.

Hingga akhirnya aku katakan : " Lin, Sepertinya kita memang tidak bisa bersama. Aku ingin berjuang untukmu. Tapi entah mengapa sekarang ini kamu bagaikan bulan yang indah terlihat dari sini. Kamu sangat indah dan selalu menemani malam - malamku. Kamu selalu menjadi cahaya di hidupku yang seolah - olah gelap, segelap langit di malam hari. Aku tahu, ini terdengar bodoh dan pengecut, tapi maafkan aku. Sepertinya kita harus berjalan pada jalan kita masing - masing lagi untuk sementara. Iya, untuk sementara, sampai aku benar - benar bisa menggapaimu lagi. Mungkin kau akan mendengar aku hari ini seperti seorang pujangga yang sedang mengarang cerita dan puisi indah untuk kekasihnya. Tapi aku ingin, melalui telepon ini, aku ingin menyampaikan jika, Aku sayang kamu tapi aku tak mampu. Maafkan keegoisanku yang meminta untuk mengakhiri cerita kita hanya sampai hari ini. Terimakasih sudah menjadi Bulan di malam - malamku, dan Maafkan aku yang tidak bisa menjadikan mu mentari yang mengisi hari - hari ku ".

Tak lama setelah itu, aku mendengar suara tangisannya di telpon. Aku diam mendengarnya, dia meratap dalam tangisnya dan mengatakan : " Tidak, jangan ucapkan hal - hal bodoh seperti itu, Kamu sayang aku kan ?? ", dan kata - kata itu yang mengantarkan ku tidur, kata - kata itu yang terngiang di kepalaku. Telepon kami berakhir karena ponselku kehabisan batre. Dan dingin malam itu terasa lebih dingin dari hari biasanya.




** Cerita ini hanya sepenggal dari sebuah kisah yang lain. Maaf jika penulisannya membingungkan dan aga sulit dipahami.
** Dan cerita ini hanya fiktif belaka, jika terjadi sesuai kenyataan, pastinya tidak disengaja.


Komentar

  1. masih ada lanjutannya ?

    BalasHapus
  2. tadinya mau ada, tapi karena belum dapat inspirasi, dan mulai sibuk akhirnya, ga jadi dilanjutkan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman ???

Cerita ini dimulai dari... Dapet notif "penampungan google anda sudah penuh". Terus buka google photo, ceritanya mau hapus beberapa foto yang mungkin bisa dihapus. Liat foto dari paling lama ampe paling baru. Scrol naik turun, naik turun, isinya bener bener susah buat dihapus. Tapi lama lama baru sadar. Selama ini, setiap moment spesial gw, ga pernah ada teman or sahabat yang nemenin gw. Tapi disetiap moment teman or sahabat gw, gw selalu ada. Diem, liat lagi, scroll lagi. Positif thingkingnya adalah "moment spesial gw pasti selalu hari libur" jadi wajarlah. Tapi selama gw berteman sama mereka, ternyata ga pernah ada. Hahaha. Ketawa, terus diam, ga lama inget beberapa kejadian kocak dan akhirnya. Yups, gw sedikit membuat eksperimen dengan memancing keributan, yang akhirnya gw berasa seperti sedikit disudutkan, meskipun sebenarnya statement gw cuma sepikan "biasa" seperti yang lain lakukan, tapi kocaknya, lah, gw malah jadi seperti seorang pembuat...

Cerita Kita Dimulai Part 2

Kereta Hari Ini Pagi ini, aku sedikit terkejut saat melihat jam di ponselku. Alarm bangunku sudah 2 kali terlewat dan aku langsung mandi tanpa membaca ada pesan apa saja yang masuk di ponselku. Hari ini aku berangkat sedikit kesiangan, karena selain bangun kesiangan, saat tiba di stasiun bogor, kereta yang biasa ku naiki sudah berangkat dan mau tidak mau harus menunggu kereta yang  berikutnya tiba. Saat kereta tiba, aku langsung naik bersamaan dengan penumpang lainnya. Awalnya kupikir, mungkin aku masih bisa dapat tempat duduk, karena sudah siang, tapi kenyataannya tidak begitu. Saat masuk dan melihat ke sekeliling, semua kursi sudah terisi. Dan aku lanjut jalan ke gerbong selanjutnya untuk mencari kursi yang bisa kududuki. Aku berjalan terus sampai ke gerbong 2 dari depan, dan akhirnya aku berdiri di samping pintu dan bersandar pada tiang ujung tempat duduk. Kereta masih diam dan belum ada pengumuman lagi jika kereta yang kunaiki akan segera berangkat. Aku baru ...