Langsung ke konten utama

Cerita Kita Dimulai Part 1


Gerimis di Sabtu Sore

Kira kira jam 12 siang, aku berangkat dari rumah dan tanpa perasaan kuatir akan hujan, aku pergi tanpa membawa payung. Pikirku, langit hari ini sangat cerah dan hawa kota bogor benar benar sangat panas.

Sekitar jam setengah 1 aku masuk ke dalam sebuah coffe shop di salah satu pusat perbelanjaan di  kota Bogor. Dan disitu aku disambut oleh sapa hangat dari para barista yang sudah kenal dan ingat dengan kebiasaanku. Secangkir Hazelnut cappuccino hangat dan sepotong kue brownies coklat, langsung mereka siapkan, dan aku hanya tinggal menunggu mereka memanggilku untuk mengambil pesananku.

Aku duduk di kursi yang sudah menjadi tempat favoritku, posisinya dekat dengan pintu keluar, jendela dan tempat untuk mengambil pesanan yang sudah selesai dibuat. Meja dengan 2 kursi kecil terpisah dan 1 kursi panjang yang memanjang membentuk sudut 90 drajat dari jendela. Jadi jika aku menghadap ke sebelah kanan, aku bisa melihat kondisi diluar dan jika menghadap ke depan, aku bisa tahu jika pesananku sudah ada.

Tanpa terasa, kira kira sudah sekitar 2 jam berlalu. Dan tanpa aku sadari, ternyata cuaca diluar sudah berubah, dari hari yang cerah dan panas, tiba tiba saja jadi gerimis dan benar benar terlihat sangat mendung dan gelap. Karena kondisi itu, niatku untuk pulang, kubatalkan. Aku melangkah ke tempat barista membuat kopi dan memesan 1 gelas lagi, hanya saja kali ini pesananku tidak hangat, tapi panas.

“ Ka Jojo… Hazelnut Cappuccinonya… “ , suara barista terdengar memanggilku

Aku melangkah ke arah meja barista yang sudah menaruh kopiku disitu. Dan tiba tiba saja ada seorang wanita masuk dari pintu kaca dekat meja dan hampir saja menabraku yang sedang memegang segelas kopi panas. Wanita itu masuk dan tidak berkata apa apa, hanya melihat ke arahku dan melihat kebelakangku.

“ Maaf “, terdengar sesaat wanita itu melangkah ke arah belakangku.

Kondisi coffe shop sore itu berbeda dari hari sabtu biasanya, karena benar benar penuh. Entah karena hujan atau apapun itu, yang pasti saat aku duduk dan melihat ke sekeliligku, ternyata sudah tidak ada lagi kursi yang kosong.

Aku kembali fokus ke laptopku dan menghiraukan orang orang disekitarku lagi. Sampai dia, wanita yang hampir menabrakku duduk didepanku.

“ Sibuk ?? Btw, maaf ya tadi, hmmm… aku boleh duduk di sini kan ?? “, sapa dia sesudah duduk dihadapanku.

Aku hanya melihatnya dan menjawab pertanyaannya dalam hati. Dengan rasa sedikit kesal.

“ Hei… kamu marah ya ?? “, tanya dia lagi, dan aku masih hanya diam.

“ Olin… Caroline “, dia menyebutkan namanya sambil mengarahkan tangannya ke arahku

“ Iya.. Maaf… Kenapa ?? “, tanyaku sambil melepaskan headset yang menempel ditelingaku ( berlaga seperti tidak tahu apa yang terjadi tadi )

“ Sepertinya kamu sibuk banget, aku minta maaf soal yang tadi, kamu boleh panggil aku Olin “, Jawabnya

“ Owh.. iya… Jojo, Jonathan… “, Jawabku sambil menyalami tangannya yang terarah kepadaku.

Sesudah itu, dia menceritakan jika tadi dia sedang terburu buru karena ingin ke kamar mandi. Tak lama kemudian, dia pergi mengambil pesanannya, dan aku sedikit terkejut, karena yang kami pesan sama.

Dari rasa penasarannya tentang apa yang sedang ku kerjakan, akhirnya kami mengobrol dan tanpa terasa kira kira 2 jam sudah berlalu, dari dia tiba dan duduk dihadapanku hingga mengobrol denganku. Kami mengobrol tentang yang sedang kukerjakan dan beberapa pertanyaan yang kami saling berikan saat melihat kondisi orang orang di sekeliling kami.

Tepat jam setengah 7, hujan berhenti dan kondisi langit diluar sepertinya kembali cerah, meskipun sudah terlihat gelap, tapi sudah tidak hujan dan saat aku melihat kondisi keluar, ku lihat langit sudah penuh dengan bintang yang terlihat dan bulan yang terang. Dalam pikiranku, aku kebingungan sendiri, karena baru jam 7, tapi sudah ada bulan dan bintang yang terlihat dilangit.

Tepat jam 8, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumah kami masing masing, dan sepanjang jalan menuju rumah, tanpa sadar aku masih terbayang tentang dia yang tiba tiba duduk dihadapanku dan sempat berharap untuk bisa bertemu lagi besok.


Minggu yang cerah.

Waktu sudah menunjukan pukul 8.00 di jam tangan ku, dan aku seperti orang yang sedang dikejar kejar sesuatu, saat aku memacu kendaraanku ke gereja. Dan setibaku di gereja, kulihat parkiran belum ramai. Aku diam sejenak di parkiran dan melihat jam tanganku lagi. Ternyata, jam tanganku masih menunjukan pukul 8.00. Aku diam dan tersenyum sendiri, karena sepertinya jam tanganku mati.

Aku memeriksa ponsel dan sedikit terkejut, karena jam di ponselku menunjukan angka 8.00, Sempat bingung dan tiba tiba saja jam tanganku berdetik lagi dan jarumnya kembali normal, benar benar seperti jam yang bangkit dari kematiannya.

Karena kepagian sampai di gereja, akhirnya aku berkeliling dan melihat setiap ruangan yang ada di gereja. Aku mulai dari ruang yang bernama GSG2, karena ruangan itu adalah ruangan yang terdekat dari parkiran mobil. Terlihat banyak anak kecil yang berlarian ke arah GSG2 dan terlihat juga banyak jemaat yang membawa anak mereka kesana.

Aku mengintip dari jendela dan sedikit terkejut, karena ada dia ( wanita yang bertemu dengan ku kemarin di kedai kopi ) sedang bersama dengan anak anak di dalam GSG2. Aku yang terdiam melihatnya sedikit terkejut ketika disapa oleh beberapa pemuda di gerejaku. Mereka mengucapkan salam dan mengajakku untuk aktif di kegiatan gereja. Aku hanya tersenyum dan membalas salam mereka lalu melangkah ke ruangan lainnya.

Sudah sekitar 30 menit aku menjelajah gedung gereja, dan melihat dia didalam bersama anak anak kecil. Akhirnya aku masuk kedalam gedung dan duduk di lantai 2, tepat di tengah tengah balkon lantai 2. Aku duduk tepat menghadap kearah mimbar dan salib. Tempat itu bisa dibilang tempat duduk favoritku, karena jika duduk disitu, tidak ada teman teman ku yang menghampiri, dan aku merasa ibadahku lebih serius.

Lonceng sudah berbunyi dan tiba tiba ada yang menepuk pundakku sambil menanyakan kursi disampingku.

“ Hei… Selamat Hari minggu Jojo… “, Ucapnya sambil tersenyum, dan aku hanya sedikit terkejut sambil menatapnya.

“ Samping kamu kosong ? Aku boleh duduk di situ ? “, Tanyanya

“ Iya.. Kosong… Duduk aja… “, jawabku.

Sesudah dia duduk, kulihat ada beberapa pemuda yang seperti sedang melihat ke arah kami. Aku sempat bingung, tapi aku tidak mau ambil pusing, karena niatku mau ibadah, bukan untuk melihat mereka.

“ Kamu sendiri ? “, tanya dia tiba tiba

“ Iya, kamu sendiri ga sama teman atau keluarga kamu ? “, tanya ku sambil menjawab pertanyaannya

“ Iya, sama.. lagi sendiri nih… “, dia menjawab sambil tersenyum dan tak lama kemudian kami tertawa.

“ Kenapa ketawa ? “, tanyanya

“ Tidak tidak apa apa, Cuma pengen ketawa aja, lagian kamu juga ketawa kenapa ? “, tanyaku

“ Aku pengen ketawa aja, soalnya pertanyaan kamu sama jawaban aku… Basa basi banget… “, jawabnya

Tak lama ibadah dimulai dan aku menyudahi percakapan kami,

“ Ok… kita Off dulu ngobrolnya, lanjut nanti aja, abis gereja… ok ?? “

Dia mengangguk dan tersenyum.

Kira kira jam 11 siang, sesudah ibadah selesai, kami turun dan menyalami pendeta dan jemaat yang sama sama sudah selesai beribadah. Bisa dibilang seperti tradisi dalam ibadah, jika ibadah mau mulai dan sesudah selesai, biasanya para jemaat saling bersalaman sambil mengucapkan selamat hari minggu dan biasanya diakhiri dengan ucapan Tuhan Yesus Memberkati.

Sesudah bersalaman dengan pendeta dan kami sudah diluar gedung gereja, aku melangkah ke arah mobil ku, dan dia tiba tiba memanggilku dan menanyakan tujuan ku selanjutnya sepulang dari gereja. Belum sempat kujawab teman temannya sudah menghampirinya dan mengucapkan selamat hari minggu padanya dan padaku juga. Sedikit terkejut, karena aku tidak kenal dengan teman temannya, tapi mereka ramah padaku.

“ Jangan pulang dulu, bisa kan ? “, Tanya dia padaku

“ Lah kenapa ? “, Tanyaku

“ Iya jangan pulang dulu, tapi temani aku dulu bisa ga ? kita makan dulu, udahnya temani aku nyari barang buat bikin alat peraga untuk sekolah minggu “, Jawabnya

“ Cieee…. Olin…. Cieee…. Dah… Jangan pulang dulu mas…. Ehh… atau apa nih ??? “, teman temannya mengejeknya sambil tersenyum dan melihat kearahku

“ Emang mau nyari apaan ? terus lama ga ? “, tanyaku

“ Bentar doang kok, paling ke Gramed “, Jawabnya

“ Jadi ini lin ? “, Tanya seorang temannya padanya

“ Ace… Fani… Nova… Andre… Alex… “, teman temannya menyebutkan namanya masing masing sambil menyalamiku

“ Jojo.. “, Jawabku sambil bersalaman dengan mereka

Dan akhirnya kami makan siang bersama di kantin gereja dan pergi ke Gramed ( toko buku yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di bogor ). Kami pergi berempat dan sempat terasa seperti sedang dimanfaatkan, karena temannya yang ikut dengan kami juga bawa kendaraan, tapi kenapa harus pakai kendaraan pribadiku. Itulah kira kira yang sempat terpikir, tapi ya sudahlah, mungkin ini yang namanya pelayanan, pikirku lainnya.

Temannya bertanya pada dia mengenai aku, dan bisa kenal dimana, karena salah satu temannya yang pergi ke gramed bersama kami, kenal denganku dan ternyata dulu kami pernah sekolah minggu bareng. Bogor ternyata memang sempit pikirku, atau mungkin memang aku juga yang kurang dan bahkan tidak aktif di gereja.

Sesudah dari gramed, kami kembali ke gereja untuk menaruh barang barang yang kami beli. Teman temannya langsung pulang, tapi dia terlihat masih sibuk.

“ Kamu belum selesai ? “, tanyaku

“ Iya dikit lagi… aku mau bikin laporannya dulu… kamu mau pulang ? “, tanya dia

“ Belom sih, tapi teman teman kamu udah pulang. Mereka ga bikin laporannya dulu ? “, tanyaku lagi

“ Ohh… Biarin aja, soalnya minggu depan aku kan ga bantuin mereka bikin alat peraga, jadi hari ini mau aku beresin dulu laporan pemakaian uang sama mau disetorin dulu ke kantor gereja uang sisanya sama bon bonnya “, Jawabnya

“ Ohh gitu… yaudah aku nunggu di mobil ya… “, Jawabku

“ Ohh…. Kamu mau anter aku pulang sekalian ? “, tanya dia

“ Iya… Jadi kan nemeninnya ga setengah setengah… Atau kamu mau pergi lagi ? atau ada yang jemput kamu nanti ? atau gimana ? “, tanyaku

“ Yaudah… tunggu di mobil aja sana… nanti aku nyusul ke mobil “, jawab dia sambil tersenyum lalu berdiri dan melangkah ke arah ku dan mendorong ku ke arah pintu  


Sudah kurang lebih 30 menit aku menunggu di mobil, tapi dia belum muncul juga. Aku melihat ke langit dan langit masih terlihat cerah, berbeda dari kemarin. Tak lama kemudian dia muncul dan kamipun pulang. Aku mengantarkan dia ke kosannya. Dan sepanjang jalan ada saja bahan pembicaraan yang kami bahas, dari situasi jalanan hari itu, pemandangan langit hari itu, dan kegiatan kami sehari hari.


Senin yang Berbeda

Sabtu minggu kemarin, benar benar hari yang lucu, diawali dengan cuaca cerah dan gerimis di hari sabtu dan cuaca cerah disepanjang hari minggu. Dan kemarin juga bisa dibilang suatu awal dari sesuatu yang mungkin mulai kubayangkan dan ku doakan.

Pagi ini, seperti biasa aku bangun subuh dan langsung siap siap untuk berangkat ke kantor, semua laporan yang kubawa pulang sudah kurapihkan dan sudah masuk ke dalam tas bersamaan dengan laptop yang sudah ku charge batrenya.

Jam sudah menunjukan pukul 5.30 pagi, aku pamit ke orang tuaku dan bergegas berangkat ke kantor, tak lama kemudian ponselku berbunyi, kukira alarm, ternyata sebuah pesan dari dia yang berisi ucapan selamat pagi dan mengingatkan aku untuk saat teduh. Sesaat sesudah masuk tol, akhirnya aku berhenti dulu di rest area, karena aku belum sempat saat teduh ( berdoa dan baca alkitab ) pas pagi, dan mungkin memang bukan suatu kebiasaan buat ku.

Sesudah saat teduh sejenak di rest area, aku tersenyum dan tertawa sendiri. Entah apa yang membuat ku sampai tertawa, tapi itu kulakukan dan aku melanjutkan perjalananku kekantor. Setiba ku di kantor, tak lama kemudian ponsel ku berbunyi lagi, ternyata masih pesan dari dia yang menanyakan kabarku. Aku tersenyum membaca pesannya dan mulai kubalas.

Sungguh ada perasaan lucu yang muncul saat ku bekerja hari ini, karena seperti punya pacar yang selalu mengingatkan dan menanyakan keadaanku, benar benar terasa sangat diperhatikan. Akhirnya akupun membalas perhatiannya. Saat siang sekitar jam 12.00 aku menanyakan kabarnya dahulu dan mengingatkan dia untuk makan siang, meskipun aku sebenarnya masih berkutat dengan kerjaanku dan belum melangkah keluar ruangan untuk makan siang.

Kira kira jam 4 sore ada pesan darinya masuk dan menanyakan kantorku. aku bertanya padanya kenapa mau tahu alamat kantorku, ternyata dia mau ikut aku pulang ke bogor. Aku sedikit terkejut, karena setahu ku, dia itu kuliah di depok, bukan di Jakarta. Akhirnya aku tanya mau janjian dimana, karena lokasi kantor ku ada di daerah Jakarta selatan dan dia sedang berada di daerah kuningan Jakarta.

Akhirnya kami janjian di Kokas dan kami sempat makan malam dulu di sana, sesudah itu baru kami pulang ke Bogor. Di jalan dia menawarkan diri untuk gentian menyetir, tapi aku menolak, karena aku merasa tidak nyaman jika harus disetirin, apalagi di setirin sama perempuan.

Dia bertanya mengenai keseharianku berangkat ke kantor, apakah selalu pakai kendaraan pribadi atau pernah pakai kendaraan umum. Aku menceritakan jika hanya hari ini saja, aku bawa kendaraan pribadi. Karena hari ini aku harus membawa beberapa barang dan dokumen ke kantor.  Sesudah kujawab beberapa pertanyaannya tentang keseharianku, akhirnya aku tanya dia tentang keseharian dia, dan dia menceritakan semuanya sampai tidak terasa jika kami sudah sampai di Bogor.

Hari ini, benar benar hari senin yang terasa berbeda dari hari senin biasanya.


Keesokan Hari dan Hari Berikutnya.

Kemarin aku sudah menghabiskan malam ku dengan dia, tapi tidak hanya kemarin, tapi dari hari sabtu sampai senin. Iya, hari sabtu sampai senin aku menghabiskan waktuku dengannya dan dia selalu menjadi penutup hariku dan mengingatkanku tentang hal hal yang terihat biasa, tapi sebenarnya penting.

Hari ini aku menjalani aktifitas seperti biasanya, bangun pagi, saat teduh sejenak, lalu berangkat ke kantor. Hari inipun sama seperti kemarin, pagi pagi dia sudah mengirimkan pesan dan siang hari kami saling mengingatkan makan dan malam harinya kami juga saling mengucapkan selamat tidur.

Tanpa terasa, sudah satu minggu kami menjalani hari hari ini, dan dia selalu memperhatikan dan mengingatkan ku tentang hal hal yang sepertinya biasa, tapi sebenarnya penting. Dari mengingatkan tentang saat teduh, sarapan pagi, makan siang dan untuk selalu berdoa di setiap mau beraktifitas.

Di minggu kedua aku menjalani hari hari ku dengannya, tepatnya di hari sabtu ini. Kami tidak janjian di coffe shop tempat awal kami bertemu, tapi kali ini kami janjiannya di gereja. Hari sabtu ini ada ibadah pemuda di gereja dan kami janji untuk ibadah bersama. Ibadah mulai jam 6 sore dan jam 3 aku sudah berangkat untuk ke kosannya untuk menjemput dia dan sesudah itu kami langsung berangkat bersama ke gereja.

Sungguh seperti suatu rutinitas yang terjadi, dari hari ke hari semenjak aku kenal dengan Dia. 


** Cerita ini hanya sepenggal dari sebuah kisah yang lain. Maaf jika penulisannya membingungkan dan aga sulit dipahami.


** Dan cerita ini hanya fiktif belaka, jika terjadi sesuai kenyataan, pastinya tidak disengaja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman ???

Cerita ini dimulai dari... Dapet notif "penampungan google anda sudah penuh". Terus buka google photo, ceritanya mau hapus beberapa foto yang mungkin bisa dihapus. Liat foto dari paling lama ampe paling baru. Scrol naik turun, naik turun, isinya bener bener susah buat dihapus. Tapi lama lama baru sadar. Selama ini, setiap moment spesial gw, ga pernah ada teman or sahabat yang nemenin gw. Tapi disetiap moment teman or sahabat gw, gw selalu ada. Diem, liat lagi, scroll lagi. Positif thingkingnya adalah "moment spesial gw pasti selalu hari libur" jadi wajarlah. Tapi selama gw berteman sama mereka, ternyata ga pernah ada. Hahaha. Ketawa, terus diam, ga lama inget beberapa kejadian kocak dan akhirnya. Yups, gw sedikit membuat eksperimen dengan memancing keributan, yang akhirnya gw berasa seperti sedikit disudutkan, meskipun sebenarnya statement gw cuma sepikan "biasa" seperti yang lain lakukan, tapi kocaknya, lah, gw malah jadi seperti seorang pembuat...

Hari Kita Berakhir

Akhirnya. Akhirnya, aku hanya bisa menatapnya saat dia boarding pas di bandara hari itu. Hari yang ingin kulupakan. Tapi aku teringat kembali. Hari itu aku sangat terkejut, karena kami sudah memiliki sebuah rencana untuk hari itu. Tapi semua berubah, saat aku menjemputnya ke kosannya. Semua barang dan tasnya sudah rapih, dan dia hanya meminta ku untuk mengantarnya, tanpa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Sabtu Pagi Itu Pagi itu sekitar jam 8 pagi aku sudah di kosannya dan siap untuk pergi ke tempat yang sudah kami rencanakan. Tapi nyatanya aku harus mengantarnya ke bandara dan selama ini dia merahasiakan jika hari itu adalah hari terakhir dia bersamaku di Indonesia.  Sesudah memasukan semua tasnya ke dalam mobil, kami akhirnya berangkat ke bandara, dan dia hanya bercerita jika dia akan pergi ke luar negri. Ke negara yang pernah menjadi tujuan ku dulu saat mau kuliah. Dia bercerita jika dia berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah negara tujuan...

Cerita Kita Dimulai Part 2

Kereta Hari Ini Pagi ini, aku sedikit terkejut saat melihat jam di ponselku. Alarm bangunku sudah 2 kali terlewat dan aku langsung mandi tanpa membaca ada pesan apa saja yang masuk di ponselku. Hari ini aku berangkat sedikit kesiangan, karena selain bangun kesiangan, saat tiba di stasiun bogor, kereta yang biasa ku naiki sudah berangkat dan mau tidak mau harus menunggu kereta yang  berikutnya tiba. Saat kereta tiba, aku langsung naik bersamaan dengan penumpang lainnya. Awalnya kupikir, mungkin aku masih bisa dapat tempat duduk, karena sudah siang, tapi kenyataannya tidak begitu. Saat masuk dan melihat ke sekeliling, semua kursi sudah terisi. Dan aku lanjut jalan ke gerbong selanjutnya untuk mencari kursi yang bisa kududuki. Aku berjalan terus sampai ke gerbong 2 dari depan, dan akhirnya aku berdiri di samping pintu dan bersandar pada tiang ujung tempat duduk. Kereta masih diam dan belum ada pengumuman lagi jika kereta yang kunaiki akan segera berangkat. Aku baru ...