Gerimis di Sabtu Sore
Kira kira jam 12 siang, aku berangkat dari rumah dan tanpa perasaan kuatir akan hujan, aku pergi tanpa membawa payung. Pikirku, langit hari ini sangat cerah dan hawa kota bogor benar benar sangat panas.
Sekitar jam
setengah 1 aku masuk ke dalam sebuah coffe shop di salah satu pusat
perbelanjaan di kota Bogor. Dan disitu
aku disambut oleh sapa hangat dari para barista yang sudah kenal dan ingat
dengan kebiasaanku. Secangkir Hazelnut cappuccino hangat dan sepotong kue
brownies coklat, langsung mereka siapkan, dan aku hanya tinggal menunggu mereka
memanggilku untuk mengambil pesananku.
Aku duduk di
kursi yang sudah menjadi tempat favoritku, posisinya dekat dengan pintu keluar,
jendela dan tempat untuk mengambil pesanan yang sudah selesai dibuat. Meja
dengan 2 kursi kecil terpisah dan 1 kursi panjang yang memanjang membentuk
sudut 90 drajat dari jendela. Jadi jika aku menghadap ke sebelah kanan, aku
bisa melihat kondisi diluar dan jika menghadap ke depan, aku bisa tahu jika
pesananku sudah ada.
Tanpa
terasa, kira kira sudah sekitar 2 jam berlalu. Dan tanpa aku sadari, ternyata
cuaca diluar sudah berubah, dari hari yang cerah dan panas, tiba tiba saja jadi
gerimis dan benar benar terlihat sangat mendung dan gelap. Karena kondisi itu,
niatku untuk pulang, kubatalkan. Aku melangkah ke tempat barista membuat kopi
dan memesan 1 gelas lagi, hanya saja kali ini pesananku tidak hangat, tapi
panas.
“ Ka Jojo…
Hazelnut Cappuccinonya… “ , suara barista terdengar memanggilku
Aku
melangkah ke arah meja barista yang sudah menaruh kopiku disitu. Dan tiba tiba
saja ada seorang wanita masuk dari pintu kaca dekat meja dan hampir saja
menabraku yang sedang memegang segelas kopi panas. Wanita itu masuk dan tidak
berkata apa apa, hanya melihat ke arahku dan melihat kebelakangku.
“ Maaf “, terdengar sesaat wanita itu melangkah ke arah belakangku.
Kondisi
coffe shop sore itu berbeda dari hari sabtu biasanya, karena benar benar penuh.
Entah karena hujan atau apapun itu, yang pasti saat aku duduk dan melihat ke
sekeliligku, ternyata sudah tidak ada lagi kursi yang kosong.
Aku kembali
fokus ke laptopku dan menghiraukan orang orang disekitarku lagi. Sampai dia,
wanita yang hampir menabrakku duduk didepanku.
“ Sibuk ??
Btw, maaf ya tadi, hmmm… aku boleh duduk di sini kan ?? “, sapa dia sesudah
duduk dihadapanku.
Aku hanya
melihatnya dan menjawab pertanyaannya dalam hati. Dengan rasa sedikit kesal.
“ Hei… kamu
marah ya ?? “, tanya dia lagi, dan aku masih hanya diam.
“ Olin…
Caroline “, dia menyebutkan namanya sambil mengarahkan tangannya ke arahku
“ Iya..
Maaf… Kenapa ?? “, tanyaku sambil melepaskan headset yang menempel ditelingaku (
berlaga seperti tidak tahu apa yang terjadi tadi )
“ Sepertinya
kamu sibuk banget, aku minta maaf soal yang tadi, kamu boleh panggil aku Olin “, Jawabnya
“ Owh.. iya…
Jojo, Jonathan… “, Jawabku sambil menyalami tangannya yang terarah kepadaku.
Sesudah itu,
dia menceritakan jika tadi dia sedang terburu buru karena ingin ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, dia pergi mengambil pesanannya, dan aku sedikit terkejut,
karena yang kami pesan sama.
Dari rasa
penasarannya tentang apa yang sedang ku kerjakan, akhirnya kami mengobrol dan
tanpa terasa kira kira 2 jam sudah berlalu, dari dia tiba dan duduk dihadapanku
hingga mengobrol denganku. Kami mengobrol tentang yang sedang kukerjakan dan
beberapa pertanyaan yang kami saling berikan saat melihat kondisi orang orang
di sekeliling kami.
Tepat jam
setengah 7, hujan berhenti dan kondisi langit diluar sepertinya kembali cerah,
meskipun sudah terlihat gelap, tapi sudah tidak hujan dan saat aku melihat
kondisi keluar, ku lihat langit sudah penuh dengan bintang yang terlihat dan
bulan yang terang. Dalam pikiranku, aku kebingungan sendiri, karena baru jam 7,
tapi sudah ada bulan dan bintang yang terlihat dilangit.
Tepat jam 8,
akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumah kami masing masing, dan
sepanjang jalan menuju rumah, tanpa sadar aku masih terbayang tentang dia yang
tiba tiba duduk dihadapanku dan sempat berharap untuk bisa bertemu lagi besok.
Minggu yang cerah.
Waktu sudah
menunjukan pukul 8.00 di jam tangan ku, dan aku seperti orang yang sedang
dikejar kejar sesuatu, saat aku memacu kendaraanku ke gereja. Dan setibaku di
gereja, kulihat parkiran belum ramai. Aku diam sejenak di parkiran dan melihat
jam tanganku lagi. Ternyata, jam tanganku masih menunjukan pukul 8.00. Aku diam
dan tersenyum sendiri, karena sepertinya jam tanganku mati.
Aku
memeriksa ponsel dan sedikit terkejut, karena jam di ponselku menunjukan angka
8.00, Sempat bingung dan tiba tiba saja jam tanganku berdetik lagi dan jarumnya
kembali normal, benar benar seperti jam yang bangkit dari kematiannya.
Karena
kepagian sampai di gereja, akhirnya aku berkeliling dan melihat setiap ruangan
yang ada di gereja. Aku mulai dari ruang yang bernama GSG2, karena ruangan itu
adalah ruangan yang terdekat dari parkiran mobil. Terlihat banyak anak kecil
yang berlarian ke arah GSG2 dan terlihat juga banyak jemaat yang membawa anak mereka
kesana.
Aku
mengintip dari jendela dan sedikit terkejut, karena ada dia ( wanita yang
bertemu dengan ku kemarin di kedai kopi ) sedang bersama dengan anak anak di
dalam GSG2. Aku yang terdiam melihatnya sedikit terkejut ketika disapa oleh
beberapa pemuda di gerejaku. Mereka mengucapkan salam dan mengajakku
untuk aktif di kegiatan gereja. Aku hanya tersenyum dan membalas salam mereka
lalu melangkah ke ruangan lainnya.
Sudah
sekitar 30 menit aku menjelajah gedung gereja, dan melihat dia didalam bersama
anak anak kecil. Akhirnya aku masuk kedalam gedung dan duduk di lantai 2, tepat
di tengah tengah balkon lantai 2. Aku duduk tepat menghadap kearah mimbar dan
salib. Tempat itu bisa dibilang tempat duduk favoritku, karena jika duduk
disitu, tidak ada teman teman ku yang menghampiri, dan aku merasa ibadahku
lebih serius.
Lonceng
sudah berbunyi dan tiba tiba ada yang menepuk pundakku sambil menanyakan kursi
disampingku.
“ Hei…
Selamat Hari minggu Jojo… “, Ucapnya sambil tersenyum, dan aku hanya sedikit
terkejut sambil menatapnya.
“ Samping
kamu kosong ? Aku boleh duduk di situ ? “, Tanyanya
“ Iya..
Kosong… Duduk aja… “, jawabku.
Sesudah dia
duduk, kulihat ada beberapa pemuda yang seperti sedang melihat ke arah kami.
Aku sempat bingung, tapi aku tidak mau ambil pusing, karena niatku mau ibadah,
bukan untuk melihat mereka.
“ Kamu
sendiri ? “, tanya dia tiba tiba
“ Iya, kamu
sendiri ga sama teman atau keluarga kamu ? “, tanya ku sambil menjawab
pertanyaannya
“ Iya,
sama.. lagi sendiri nih… “, dia menjawab sambil tersenyum dan tak lama kemudian
kami tertawa.
“ Kenapa
ketawa ? “, tanyanya
“ Tidak
tidak apa apa, Cuma pengen ketawa aja, lagian kamu juga ketawa kenapa ? “, tanyaku
“ Aku pengen
ketawa aja, soalnya pertanyaan kamu sama jawaban aku… Basa basi banget… “, jawabnya
Tak lama
ibadah dimulai dan aku menyudahi percakapan kami,
“ Ok… kita
Off dulu ngobrolnya, lanjut nanti aja, abis gereja… ok ?? “
Dia
mengangguk dan tersenyum.
Kira kira
jam 11 siang, sesudah ibadah selesai, kami turun dan menyalami pendeta dan
jemaat yang sama sama sudah selesai beribadah. Bisa dibilang seperti tradisi
dalam ibadah, jika ibadah mau mulai dan sesudah selesai, biasanya para jemaat
saling bersalaman sambil mengucapkan selamat hari minggu dan biasanya diakhiri
dengan ucapan Tuhan Yesus Memberkati.
Sesudah
bersalaman dengan pendeta dan kami sudah diluar gedung gereja, aku melangkah ke
arah mobil ku, dan dia tiba tiba memanggilku dan menanyakan tujuan ku
selanjutnya sepulang dari gereja. Belum sempat kujawab teman temannya sudah
menghampirinya dan mengucapkan selamat hari minggu padanya dan padaku juga.
Sedikit terkejut, karena aku tidak kenal dengan teman temannya, tapi mereka
ramah padaku.
“ Jangan
pulang dulu, bisa kan ? “, Tanya dia padaku
“ Lah kenapa
? “, Tanyaku
“ Iya jangan
pulang dulu, tapi temani aku dulu bisa ga ? kita makan dulu, udahnya temani aku
nyari barang buat bikin alat peraga untuk sekolah minggu “, Jawabnya
“ Cieee….
Olin…. Cieee…. Dah… Jangan pulang dulu mas…. Ehh… atau apa nih ??? “, teman
temannya mengejeknya sambil tersenyum dan melihat kearahku
“ Emang mau
nyari apaan ? terus lama ga ? “, tanyaku
“ Bentar
doang kok, paling ke Gramed “, Jawabnya
“ Jadi ini
lin ? “, Tanya seorang temannya padanya
“ Ace… Fani…
Nova… Andre… Alex… “, teman temannya menyebutkan namanya masing masing sambil
menyalamiku
“ Jojo.. “, Jawabku
sambil bersalaman dengan mereka
Dan akhirnya
kami makan siang bersama di kantin gereja dan pergi ke Gramed ( toko buku yang
ada di salah satu pusat perbelanjaan di bogor ). Kami pergi berempat dan sempat
terasa seperti sedang dimanfaatkan, karena temannya yang ikut dengan kami juga
bawa kendaraan, tapi kenapa harus pakai kendaraan pribadiku. Itulah kira kira
yang sempat terpikir, tapi ya sudahlah, mungkin ini yang namanya pelayanan,
pikirku lainnya.
Temannya
bertanya pada dia mengenai aku, dan bisa kenal dimana, karena salah satu
temannya yang pergi ke gramed bersama kami, kenal denganku dan ternyata dulu
kami pernah sekolah minggu bareng. Bogor ternyata memang sempit pikirku, atau
mungkin memang aku juga yang kurang dan bahkan tidak aktif di gereja.
Sesudah dari
gramed, kami kembali ke gereja untuk menaruh barang barang yang kami beli.
Teman temannya langsung pulang, tapi dia terlihat masih sibuk.
“ Kamu belum
selesai ? “, tanyaku
“ Iya dikit
lagi… aku mau bikin laporannya dulu… kamu mau pulang ? “, tanya dia
“ Belom sih,
tapi teman teman kamu udah pulang. Mereka ga bikin laporannya dulu ? “, tanyaku
lagi
“ Ohh…
Biarin aja, soalnya minggu depan aku kan ga bantuin mereka bikin alat peraga,
jadi hari ini mau aku beresin dulu laporan pemakaian uang sama mau disetorin
dulu ke kantor gereja uang sisanya sama bon bonnya “, Jawabnya
“ Ohh gitu…
yaudah aku nunggu di mobil ya… “, Jawabku
“ Ohh…. Kamu
mau anter aku pulang sekalian ? “, tanya dia
“ Iya… Jadi
kan nemeninnya ga setengah setengah… Atau kamu mau pergi lagi ? atau ada yang
jemput kamu nanti ? atau gimana ? “, tanyaku
“ Yaudah…
tunggu di mobil aja sana… nanti aku nyusul ke mobil “, jawab dia sambil tersenyum
lalu berdiri dan melangkah ke arah ku dan mendorong ku ke arah pintu
Sudah kurang
lebih 30 menit aku menunggu di mobil, tapi dia belum muncul juga. Aku melihat
ke langit dan langit masih terlihat cerah, berbeda dari kemarin. Tak lama
kemudian dia muncul dan kamipun pulang. Aku mengantarkan dia ke kosannya. Dan
sepanjang jalan ada saja bahan pembicaraan yang kami bahas, dari situasi
jalanan hari itu, pemandangan langit hari itu, dan kegiatan kami sehari hari.
Senin yang Berbeda
Sabtu minggu
kemarin, benar benar hari yang lucu, diawali dengan cuaca cerah dan gerimis di
hari sabtu dan cuaca cerah disepanjang hari minggu. Dan kemarin juga bisa
dibilang suatu awal dari sesuatu yang mungkin mulai kubayangkan dan ku doakan.
Pagi ini,
seperti biasa aku bangun subuh dan langsung siap siap untuk berangkat ke
kantor, semua laporan yang kubawa pulang sudah kurapihkan dan sudah masuk ke
dalam tas bersamaan dengan laptop yang sudah ku charge batrenya.
Jam sudah
menunjukan pukul 5.30 pagi, aku pamit ke orang tuaku dan bergegas berangkat ke
kantor, tak lama kemudian ponselku berbunyi, kukira alarm, ternyata sebuah pesan
dari dia yang berisi ucapan selamat pagi dan mengingatkan aku untuk saat teduh.
Sesaat sesudah masuk tol, akhirnya aku berhenti dulu di rest area, karena aku
belum sempat saat teduh ( berdoa dan baca alkitab ) pas pagi, dan mungkin
memang bukan suatu kebiasaan buat ku.
Sesudah saat
teduh sejenak di rest area, aku tersenyum dan tertawa sendiri. Entah apa yang
membuat ku sampai tertawa, tapi itu kulakukan dan aku melanjutkan perjalananku
kekantor. Setiba ku di kantor, tak lama kemudian ponsel ku berbunyi lagi,
ternyata masih pesan dari dia yang menanyakan kabarku. Aku tersenyum membaca
pesannya dan mulai kubalas.
Sungguh ada
perasaan lucu yang muncul saat ku bekerja hari ini, karena seperti punya pacar
yang selalu mengingatkan dan menanyakan keadaanku, benar benar terasa sangat
diperhatikan. Akhirnya akupun membalas perhatiannya. Saat siang sekitar jam
12.00 aku menanyakan kabarnya dahulu dan mengingatkan dia untuk makan siang,
meskipun aku sebenarnya masih berkutat dengan kerjaanku dan belum melangkah
keluar ruangan untuk makan siang.
Kira kira
jam 4 sore ada pesan darinya masuk dan menanyakan kantorku. aku bertanya
padanya kenapa mau tahu alamat kantorku, ternyata dia mau ikut aku pulang ke
bogor. Aku sedikit terkejut, karena setahu ku, dia itu kuliah di depok, bukan
di Jakarta. Akhirnya aku tanya mau janjian dimana, karena lokasi kantor ku ada
di daerah Jakarta selatan dan dia sedang berada di daerah kuningan Jakarta.
Akhirnya kami
janjian di Kokas dan kami sempat makan malam dulu di sana, sesudah itu baru
kami pulang ke Bogor. Di jalan dia menawarkan diri untuk gentian menyetir, tapi
aku menolak, karena aku merasa tidak nyaman jika harus disetirin, apalagi di setirin
sama perempuan.
Dia bertanya
mengenai keseharianku berangkat ke kantor, apakah selalu pakai kendaraan
pribadi atau pernah pakai kendaraan umum. Aku menceritakan jika hanya hari ini
saja, aku bawa kendaraan pribadi. Karena hari ini aku harus membawa beberapa
barang dan dokumen ke kantor. Sesudah
kujawab beberapa pertanyaannya tentang keseharianku, akhirnya aku tanya dia
tentang keseharian dia, dan dia menceritakan semuanya sampai tidak terasa jika
kami sudah sampai di Bogor.
Hari ini,
benar benar hari senin yang terasa berbeda dari hari senin biasanya.
Keesokan Hari dan Hari Berikutnya.
Kemarin aku
sudah menghabiskan malam ku dengan dia, tapi tidak hanya kemarin, tapi dari
hari sabtu sampai senin. Iya, hari sabtu sampai senin aku menghabiskan waktuku
dengannya dan dia selalu menjadi penutup hariku dan mengingatkanku tentang hal
hal yang terihat biasa, tapi sebenarnya penting.
Hari ini aku
menjalani aktifitas seperti biasanya, bangun pagi, saat teduh sejenak, lalu
berangkat ke kantor. Hari inipun sama seperti kemarin, pagi pagi dia sudah
mengirimkan pesan dan siang hari kami saling mengingatkan makan dan malam
harinya kami juga saling mengucapkan selamat tidur.
Tanpa
terasa, sudah satu minggu kami menjalani hari hari ini, dan dia selalu
memperhatikan dan mengingatkan ku tentang hal hal yang sepertinya biasa, tapi
sebenarnya penting. Dari mengingatkan tentang saat teduh, sarapan pagi, makan
siang dan untuk selalu berdoa di setiap mau beraktifitas.
Di minggu
kedua aku menjalani hari hari ku dengannya, tepatnya di hari sabtu ini. Kami
tidak janjian di coffe shop tempat awal kami bertemu, tapi kali ini kami
janjiannya di gereja. Hari sabtu ini ada ibadah pemuda di gereja dan kami janji
untuk ibadah bersama. Ibadah mulai jam 6 sore dan jam 3 aku sudah berangkat
untuk ke kosannya untuk menjemput dia dan sesudah itu kami langsung berangkat
bersama ke gereja.
Sungguh seperti
suatu rutinitas yang terjadi, dari hari ke hari semenjak aku kenal dengan Dia.
** Cerita ini hanya sepenggal dari sebuah kisah yang lain. Maaf jika penulisannya membingungkan dan aga sulit dipahami.
** Dan cerita ini hanya fiktif belaka, jika terjadi sesuai kenyataan, pastinya tidak disengaja.
Komentar
Posting Komentar